Kuda Lumping, Seni Lintas Etnis untuk Mempererat Silaturahmi
- Mar 28, 2026
- Tono Triyanto
- Sosial Kemasyarakatan
SAMPIT – Sebagai kota majemuk dan terdiri dari banyak suku, keberadaan seni dan budaya dari daerah luar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) cukup banyak berkembang. Tentunya keberadaan seni dan budaya itu tetap menganut paham di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Salah satunya adalah Paguyuban Turonggo Mudho Budoyo Sampit yang aktif mengembangkan kesenian Kuda Lumping.
Keberadaan kesenian Kuda Lumping di Kabupaten Kotawaringin Timur sudah cukup lama berkembang. Kuda Lumping di Kotim merupakan wujud pelestrian budaya jawa oleh komunitas transmigran, yang kini berevolusi menjadi seni lintas etnis untuk memperat silaturahmi dan solidaritas warga. Pertunjukan ini aktif merawat tradisi melalui generasi muda dan sering ditampilkan pada acara pernikahan, khitanan dan perayaan hari besar.
“Di zaman sekarang Kesenian Kuda Lumping sudah menjadi media pemersatu lintas etnis. Dimana dalam pertunjukannnya tidak hanya dimainkan masyarakat Jawa, tetapi melibatkan berbagai etnis untuk memperkuat persaudaraan dan silaturahmi,” ungkap Camat Mentawa Baru Ketapang Irpansyah saat menghadiri kegiatan kesenian Kuda Lumping yang dimainkan Paguyuban Turonggo Mudho Budoyo Sampit di RT 39 Jalan Bumi Ayu Sampit, Jumat malam (27/03/2026).
Sebagai bentuk pelestarian budaya nasional, Kesenian Kuda Lumping ini mendapat dukungan dari pemerintah setempat sebagai upaya merawat budaya leluhur dan memperkuat kekayaan budaya.
“Sebagai seni lintas etnis, kesenian ini tidak hanya menjadi milik masyarakat Jawa, tapi milik kita bersama. Dan pemerintah mendukung penuh sebagai bentuk pelestarian budaya dalam khasanah budaya nasional,” ucap Irpansyah.
Pentas kesenian Kuda Lumping yang disajikan Paguyuban Turonggo Mudho Budoyo Sampit mendapat antensi luar biasa dari masyarakat sekitar. Tidak hanya orang tua, remaja hingga anak memadati arena yang disiapkan panitia menyaksikan pentas jaranan. Hadir juga dalam kegiatan itu Sekcam Mentawa Baru Ketapang Rita Purwanto dan Lurah Mentawa Baru Hilir Putri Noorgeulis Fimaulyahar. (kim.mb-hilir1)