Bupati Sidak, Pastikan Pengerjaan Jembatan Patah Lancar

  • Jul 08, 2026
  • Tono Triyanto
  • Pemerintahan

SAMPIT – Proyek pemeliharaan Jembatan Sei Mentaya I di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), yang lebih dikenal masyarakat sebagai Jembatan Patah di Jalan Kapten Mulyono mendapat atensi dari Bupati Kotim H. Halikinnor. Guna memastikan pekerjaan berjalan sesuai standar keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat, Bupati bersama Staf Ahli Bupati Rafiq Risaw, Kepala Bapperida Alang Arianto, Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Mentana Dhinar Tistama, serta jajaran terkait meninjau langsung lokasi proyek.

Kepala Dinas SDABMBKPRKP Kotim, Mentana Dhinar Tistama menjelaskan bahwa pemeliharaan rutin tersebut menjadi prioritas karena kondisi lantai jembatan sebelumnya mengalami kerusakan cukup parah akibat usia konstruksi dan tingginya intensitas beban kendaraan.

"Kerusakan lantai jembatan sudah cukup parah. Banyak bagian yang patah dan lapuk, sehingga dalam pemeliharaan kali ini kami melakukan penggantian total lantai beserta pelat jembatan," ujarnya.

Berdasarkan papan informasi proyek, rehabilitasi jembatan dilaksanakan selama 90 hari kalender, terhitung sejak 26 Mei 2026 hingga ditargetkan selesai pada 23 Agustus 2026.

Pekerjaan tersebut dilaksanakan oleh CV Mentaya Indah Borneo dengan nilai kontrak sebesar Rp397.800.000 yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kotim Tahun Anggaran 2026.

Meski progres pekerjaan telah mendekati penyelesaian, pihak dinas masih menghadapi kendala di lapangan. Selama proses rehabilitasi, portal penutup dan rambu larangan melintas telah dipasang untuk menjaga keamanan pekerja sekaligus melindungi konstruksi yang masih dalam tahap pengerjaan.

Namun, sejumlah oknum pengendara dilaporkan merusak portal agar tetap dapat melintas, terutama pada malam hari ketika pengawasan berkurang.

Mentana mengingatkan masyarakat, khususnya pengemudi kendaraan bertonase besar, agar tidak memaksakan melintasi jembatan tersebut karena kapasitasnya terbatas.

"Jembatan ini hanya dirancang untuk kendaraan dengan beban maksimal delapan ton. Kami mengimbau kendaraan berat seperti truk bermuatan besar maupun kontainer agar menggunakan jalur alternatif melalui Lingkar Selatan demi menjaga umur layanan jembatan," tegasnya. (kim.mb-hilir1)